[I shall either find a way or make one]

  • Mount Sindoro

    Di ufuk engkau terbenam, aku terbit

    Di teluk engkau tenggelam, aku pasang

    #dee

  • Nias

    Sejauh apapun garis waktu engkau tempuh

    Hadirku selalu dibalik matamu

    #dee

  • Morowali Harbour

    Seluas apapun ruang yang engkau rengkuh

    Cintaku selalu diluar sadarmu

    #dee

  • Pantai Padang

    Akulah awal dan engkaulah akhir

    Meniadakan kita berdua

    Adalah satu-satunya cara kita bisa bersama #dee

Welcome Benvenuto Assalamu'alaikum Bienvenue Selamat Datang hua-nyíng-gua-nglín Willkommen Bienvenido Sugeng-Rawuh hwangyong-hamnida Wilujeung-Sumping Welkom Velkommen Aloha Salamaik-Datang Sawasdee

Tuesday, 21 August 2018

Happier


This morning, as I drove my car to the office, the radio played this beautiful song by Ed Sheeran. To me, he is a genius. Most of his songs are simple, but deep in meaning, and not to mention the process how he composed those songs, so simple but catchy. Back to the Happier, let's check out the lyric.

Walking down 29th and Park
I saw you in another's arms
Only a month we've been apart
You look happier

Saw you walk inside a bar
He said something to make you laugh
I saw that both your smiles were twice wide as ours
Yeah, you look happier, you do

Ain't nobody hurt you like I hurt you
But ain't nobody love you like I do
Promise that I will not take it personal, baby
If you're moving on with someone new

'Cause baby you look happier, you do
My friends told me one day I'll feel it too
And until then I'll smile to hide the truth
But I know I was happier with you

Sat on the corner of the room
Everything's reminding me of you
Nursing an empty bottle and telling myself you're happier
Aren't you?

Ain't no no body hurt you like I hurt you
But ain't no body need you like I do
I know that there's others that deserve you
But my darling, I'm still in love with you

But I guess you look happier, you do
My friends told me one day I'd feel it too
I could try to smile to hide the truth
I know I was happier with you

Baby, you look happier, you do
I knew one day you'd fall for someone new
But if breaks your heart like lovers do
Just know that I'll be waiting here for you

songwriters: Ed Sheeran/Benjamin Levin/Ryan Tedder



So, are you happier now?
Share:

Monday, 20 August 2018

Negeri Di Atas Awan


Pernah melihat tumpukan awan dari atas pesawat? Indah bukan? Nah bagaimana klu kita melihat langsung tumpukan awan tersebut ada di bawah kaki kita? Pasti akan menakjubkan. Indonesia yang diberkahi dengan banyaknya dataran tinggi yang memungkinkan kita bisa berada di "atas" awan. Nah, dataran tinggi Dieng, salah satunya, bisa menjadi tujuan untuk menginjakkan kaki di atas awan. Dieng memang sedang menjadi primadona saat ini. Dataran tinggi yang terletak di dua Kabupaten ini-Banjarnegara dan Wonosobo-memang memiliki banyak titik yang dapat memanjakan mata. 
Saya ingin berbagi pengalaman perjalanan ke Dieng beberapa waktu yang lalu. Saya berangkat dengan seorang teman. Kami berteman, tapi tidak mesra. Teman saja. Klu mesra, geli juga, dia cowok juga soalnya, anaknya juga udah dua. [tapi yang penting kan kasih sayang...] aaahhhh... apa siiiih. Lanjut.

Perjalanan Dieng - Bandung
Perjalanan ke Dieng dari Bandung dapat ditempuh dengan berbagai moda transport. Untuk transportasi umum, kita bisa naik Bis dari terminal Cicaheum, jurusan Bandung - Wonosobo (Wonosobo adalah kota terdekat dari Dieng). Ada perusahaan otobis yang menuju Dieng, yaitu Budiman dan Sinar Jaya. Kalau saya sih merekomendasikan Sinar Jaya. Perjalanan Bandung - Wonosobo tidak akan terasa karena berangkat malam hari, jadi tinggal tidur di Bis. Hehehe.
Perjalanan ke Wonosobo sekitar sembilan jam, berhenti sekitar satu jam untuk istirahat di daerah Banjar [duh... lagi enak tidur dibangunin, buat istirahat katanya! hehehe... #supirbutuhngopiwoy]. Sampe di terminal Mendolo pukul empat pagi disambut dengan dinginnya udara Wonosobo. Brrrrrr.. Meskipun masih gelap, jangan kuatir, terminalnya sudah "hidup". Begitu turun dari Bis, langsung disambut dengan ramah oleh mas-mas yang nanya, "mau kemana mas? Sindoro? Sumbing? Prau? atau hanya ke Dieng?" Yup, di terminal Mendolo anda akan banyak menemui para pendaki yang rata-rata dari Jakarta.

Wonosobo - Dieng
Setelah menghangatkan badan dengan minum teh anget-yang cepat sekali dingin-di terminal, kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng dengan menggunakan Ojeg. Ya, sepagi itu angkutan ke Dieng belum ada di terminal, tapi kita harus ke Plaza (begitu orang sana menyebutnya) dimana sudah banyak bis 3/4 yang menunggu. Sebelum berangkat, kami sempatkan dulu shalat subuh di Masjid Kauman. Sebuah masjid lama dengan gaya arsitektur jawa kuno. Jadi berasa di zaman para wali. Lokasi masjid sedikit agak jauh dari Plaza, namun bis menuju Dieng lewat tepat di depan masjid.
Perjalanan Wonosobo - Dieng memakan waktu kurang lebih satu jam dengan hamparan lahan pertanian di kiri-kanan. Gunung Sindoro juga terlihat sangat indah. Dalam perjalanan, ada satu spot yang layak untuk dikunjungi, yaitu Gardu Pandang Tieng. Nah, kebetulan kami berangkat pagi dari Wonosobo, jadi pas ngelewat Gardu Pandang, posisi mataharinya sangat indah, di sebelah Gunung Sindoro. Sayang, kami gak sempat turun dari bis. Lain kali, mungkin. [untuk foto Gardu Pandang Tieng banyak di Google].

Dieng

Sampai di Dieng pukul delapan pagi disambut udara dingin menusuk, kami langsung menuju homestay. Kami tidak melakukan reservasi terlebih dahulu, karena waktu itu bukan high season. Kami menginap di homestay Bu Djono. Memilih disini karena hasil ulasan di beberapa situs perjalanan-termasuk Tripadvisor-memiliki nilai yang bagus dengan komentar memuaskan, harganya pun bersahabat.
Destinasi pertama sesampai di Dieng adalah..... makaaaaan. Ah itu mah bukan destinasi. Hehehe. Kami menikmati Mie Ongklok pagi itu. Mie khas Wonosobo, yang kata orang, belum ke Dieng klu belum mencoba mie ongklok. Terus, enak ga? Klu anda penggemar Lomie, mungkin akan doyan, karena kuahnya mirip, pake tepung kanji gitu. Saya sih, agak kurang doyan ya, karena "berlendir". Hehehe... tapi habis juga, lapar dan kedinginan, jadi butuh bahan bakar untuk menghangatkan tubuh. Mie ongklok dimakan dengan sate sapi. Kalau saya sih ditambah dengan paha ayam kampung goreng. Setelah makan mie ongklok, badan masih terasa dingin, kami putuskan untuk minum kopi di homestay yang kebetulan menyediakan kopi luwak aseli, katanya. Lumayan sih, dan cukup asam ternyata, apalagi saya bukan pekopi berat.

Wisata Dieng

Setelah ngupi ngupi syantiek, kami bertanya tentang wisata Dieng ke petugas homestay, dan beliau menjelaskan dengan sangat rinci dan ramah sekali. Oya, namanya Pak Kelik, tapi bukan Kelik Pelipur Lara (ada yang tahu??? hehehe), juga bukan Pak Keli Suradi, calon mertuanya Dea [Lah, siapa mereka??? Hehehehe]. Lalu kami putuskan juga untuk menyewa motor untuk dua hari ke pihak homestay. Dengan dibekali peta wisata Dieng dan bensin motor full tank, kami menjelajah Dieng, dan tujuan pertama adalah Telaga Warna. Dari penginapan sangat dekat, hanya sekitar 10 menit.


Katanya sih, telaga ini dinamai telaga warna karena warna airnya yang sering berubah karena kandungan sulfur yang sangat tinggi. Telaga warna ini dikelilingi oleh bukit hijau dengan udara yang sangat sejuk, meski bau belerang sangat menyengat sih. Selain telaga warna, daerah sekitarnya juga terdapat tempat-tempat yang cukup mistis. Ada goa yang biasa dipakai untuk bertapa para resi di zaman kerajaan dulu. Terdapat juga patung-patung tokoh seperti Gajah Mada dll. Selain itu, juga ada satu telaga lagi yang letaknya bersebelahan dengan telaga warna, yaitu Telaga Pengilon. Cuma kami hanya melihat dari jauh, karena mirip-miriplah, lagian suhunya cukup terik meskipun baru jam sembilan pagi. 
Tujuan selanjutnya adalah Dieng Plateu Theatre, objek wisata yang berupa bioskop yang memutarkan film-film dokumenter tentang Dieng, baik itu tentang fenomena alama, maupun budaya masyarakat Dieng. Namun, disini kami hanya singgah saja, tidak nonton film, titip parkir motor, lalu langsung "mini hiking" menuju Batu Pandang Ratapan Angin, objek wisata berupa bukit yang menyajikan pemandangan aduhai. Jarak tempuh dari Dieng Plateu Theatre sekitar 15 menit jalan kaki. Di atas, terdapat beberapa titik untuk melihat pemandangan Dieng Plateu. Dari sini terlihat indahnya telaga Warna dan telaga Pengilon. Di sisi lain puncak bukit ini, juga terdapat Jembatan Merah Putih. Jembatan sepanjang sekitar dua puluh meter ini terbuat dari kabel baja yang menghubungkan dua titik tempat melihat pemandangan. Jembatannya tidak terlalu tinggi, namun cukup goyang ketika dilewati.

=== bersambung

Share:

Saturday, 11 August 2018

sendiri



...dalam kesendirianku
ku kenang semua tentang mu
yang perlahan pergi seiring angin musim gugur

...dan dalam kesendirianku,
ku menantikan musim semi,
berharap semuanya seperti dulu,
saat kau menghiasi dahanku.
Aku rindu masa lalu.
Share:

Sunday, 8 October 2017

Ketan


Kuliner. Kata yang selalu disukai banyak orang. Kenapa? Karena banyak orang suka makan sambil berwisata. Termasuk saya. Kebetulan saya bertugas di tempat yang memungkinkan untuk begitu. 
Ngomong-ngomong masalah makanan favorit dan khas, saya ingin memperkenalkan makanan asal kampung halaman; Sumatera Barat. Pasti tau dong, Sumatera Barat sangat terkenal akan makanannya. Bahkan menurut CNN Travel, Rendang adalah makanan terlezat no. 1 di dunia! Numero Uno, Bro and Sis. Namun saya tidak akan membahas makanan utama masyarakat Minang tersebut. Saya ingin memperkenalkan-bagi yang belum kenal, penganan khas ranah Minang yang terbuat dari beras ketan.

Lamang
lamang tapai
Lamang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan. Ada dua jenis lamang yang sangat terkenal. Yang pertama adalah lamang tapai (seperti gambar, yaitu lamang yang dimasak dalam bambu dengan cara dibakar lalu disajikan dengan tapai, tape ketan hitam. Sebetulnya lamang tapai dapat dijumpai setiap hari, namun ia lebih populer di saaat Ramadhan dan Idul Fitri. Di Bandung, anda dapat menjumpai lamang tapai setiap malam di kawasan Cikapundung, Asia Afrika. 
nasi lamak sarikayo
Ngomong-ngomong soal makanan khas bulan Ramadhan, lamang sarikayo adalah makanan yang selalu ada, terutama di daerah saya, Kabupaten Tanah Datar. Namun sedikit berbeda, lamang-nya tidak dibakar dalam bambu. Karena dibakar langsung dengan daun, aroma kebakarnya bikin sedap dan terdapat bagian-bagian yang agak gosong, ditambah dengan rasa sarikayo yang manis jadi mantap sebagai ta'jil berbuka puasa.

lamang baluo
Lalu ada lamang basangai, atau ada pula yang menyebutnya lamang baluo. Lamang ini seperti lemper, kalau di Jawa, namun seperti kebanyakan penganan dari ranah Minang lain, isi lamang basangai adalah parutan kelapa dengan gula. Lamang ini dimasak dengan cara disangai atau disangrai. Aroma daun terbakarnya sangat menggugah selera. Di Bandung, anda dapat menemukan lamang basangai ini di Rumah Makan Nasi Kapau di Dipati Ukur.

Nasi Katan
katan pisang
Selain lamang, beras ketan juga bisa dimasak seperti nasi. Orang Minang menyebutnya nasi katan. Nasi katan atau biasa disebut juga dengan cukup katan saja, biasanya dimakan saat sarapan pagi bagi masyarakat Minang. Dapat dimakan langsung dengan menambahkan kelapa parut, dan gula, bila ingin rasanya manis. Saat sarapan ini, biasanya nasi katan dimakan dengan pisang goreng dan secangkir kopi hitam. Duh, nikmatnya. katan dan pisang goreng ini juga bisa ditemui di depan monumen perjuangan Jawa Barat (depan Unpad) setiap pagi.

katan durian
Selain itu, nasi katan juga sangat populer dimakan dengan Durian. Yup, kami masyarakat Minang menyebutnya katan durian. Rasa ketan yang gurih bertemu dengan rasa durian yang legit, membuat kombinasi makanan ini sangat populer di kalangan masyarakat Minang. Di Cijerah, terdapat warung yang menjual katan durian ini, yakni Rumah Makan Mangkuto.
Untuk masakan olahan, terdapat katan sarikayo. Perbedaannya dengan lamang sarikayo selain olahan beras ketannya adalah penyajiannya. Katan sarikayo lebih ke jajanan pasar, yang ada setiap saat. Selain itu, agar tampilannya lebih menarik sarikayo-nya seringkali diberi pewarna makanan. Katan sarikayo ini banyak dijumpai di tempat-tempat jajanan pasar, dan kalau di Bandung dapat dijumpai di Rumah Makan Nasi Kapau Dipati Ukur.
katan sarikayo


Nasi Lamak
Nasi lamak secara harfiah berarti nasi enak, dan nasi lamak versi Ranah Minang tentu saja berbeda dengan nasi lemak di Malaysia. Nasi lamak ini terbuat dari beras ketan dengan santan namun dimasak layaknya beras. Di daerah saya, nasi lamak ini biasa disajikan saat pesta perkawinan dan disajikan dengan pisang goreng. Namun tak sering juga dimakan dengan gulai kambing, masakan khas yang ada di setiap pesta pernikahan. Dan rasanya? jangan tanya.... uenak polll.

Duh, daftar makanan ini benar-benar membawa saya kembali ke masa lalu ketika masih tinggal di kampung halaman. Jadi pengen pulaaaaaaang...



*sumber gambar:
lamang dalam bambu (http://takaitu.com/wp-content/uploads/2017/03/q1.jpg)
lamang tapai (http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2016/06/12/575ce1cc7ec25-menikmati-lezatnya-lamang-tapai-menu-berbuka-khas-padang_663_382.jpg)
lamang sarikayo (http://rasaminang.byethost18.com/photos/lamang%20sarikayo.jpg?i=1)
lamang baluo (https://pbs.twimg.com/media/DCRkdGWVoAA_hz8.jpg)
katan pisang (http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/medium/48402320.jpg)
katan durian (https://kaafhaya.files.wordpress.com/2012/01/img02234-20120124-1425.jpg)
katan sarikayo (https://images.detik.com/content/2012/09/21/361/095020_ketanlapissrikayacvr.jpg?w=500&q=90)
Share:

Sunday, 27 August 2017

Atlet Syar'i


Minggu ini tampaknya minggu yang menarik bagi pecinta Olahraga. Ada ajang multi event SEA Games dengan aksi timnas sepakbola U-22 yang ciamik, ada moto gp buat yang doyan kebut-kebutan, dan buat saya, Kejuaran Dunia Bulutangkis tentu menjadi tontonan yang dinanti, selain parti Liverpool vs Arsenal, tentunya.
Aksi timnas sepakbola U-22 yang berlaga di SEA Games Malaysia menarik perhatian saya karena berhasil menahan Thailand-Rajanya Asia Tenggara, dipartai pertama dengan cukup mendominasi permainan. Partai-partai selanjutnya permainan Hansamu dkk juga sangat menarik dengan kombinasi serangan yang baik. Dan partai menegangkan melawan Vietnam dimana kita bisa menahan imbang mereka dengan 10 pemain, dan satu momen ajaib di menit akhir dimana Vietnam memiliki peluang 99% gol, tapi entah bagaimana caranya penjaga gawang mampu menepis bola lalu mengenai mistar gawang dan bola keluar. Hingga akhirnya Vietnam jadi tersisih dan kita melaju karena di partai terakhir mereka kalah dari Thailand. Apapun hasil akhirnya, Timnas sudah berjuang dan mereka KEREN.
Dan yang ini juga keren, kiprah ganda putra M.Ahsan/Rian Agung Saputro di Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Glasgow, Skoltandia. Bagaimana tidak, tidak diunggulkan, sekarang mereka ada di partai puncak dengan melewati para unggulan, dan tentu saja duo tiang listrik asal China yang merupakan unggulan pertama dan peringkat satu dunia di babak pertama! Ahsan sendiri sedang mengalami masa akhir karirnya. Setelah dipisahkan dari Hendra Setiawan, memang duet Ahsan/Rian lebih sering terhenti di babak awal setiap turnamen. Selain prestasi mereka tersebut, yang menjadi trending dari keduanya adalah perilaku mereka selama turnamen. Pasangan ini dijuluki Duo Syar'i. Keduanya memang berpenampilan berjenggot, selalu menggunakan deker panjang menutupi lutut (meskipun ini bisa diperdepatkan, karena banyak juga atlit putera negara lain menggunakannya), lalu ketika rehat, mereka minum juga tidak berdiri dan seusai pertandingan tidak berjebat tangan dengan wasit wanita. Wow. Foto-foto perilaku syar'i ini banyak bertebaran di internet utamanya di portal Islam dan juga di Instagram. Semoga mereka jadi Juara Dunia ya. Aamiin. Karena kejuaraan dunia adalah turnamen prestisius yang hanya kalah pamor oleh Olimpiade, dimana lagu kebangsaan pemain akan dikumandangkan. Nah, atlet aja hijrah, aku kapan???

PS. Sekedar info, keduanya sudah laku. :)
Share:

Sunday, 30 July 2017

GTO



Di banyak negara maju, biasanya fasilitas umum digunakan dengan cara swalayan entah itu mengisi bahan bakar, bayar parkir, bayar tol, dan lain-lain. Hal ini selain teknologi mereka sudah maju, jumlah SDM mereka pun terbatas dan tingkat literasi mereka pun jauh lebih tinggi.
Nah bicara tingkat literasi, saya punya pengalaman yang agak gimanaaa dengan bayar tol di gerbang tol otomatis. Maksud dari gerbang tol otomatis itu kan agar transaksi di pintu tol berjalan lebih cepat. Nah, entah emang lagi amsyong aja, saya sering malah lebih lambat. Pagi ini misalnya. Karena ada kegiatan di kantor pagi-pagi (Minggu masih masuk kerja 😞), saya agak terburu-buru ke kantor dan menurut inpoh yang palid, Bandung akan macet karena ada lomba marathon internasional. Begitu masuk pintu tol Pasteur, saya antrilah di jalur GTO karena memang masuk tolnya pake e-money. 
Begitu sampe depan pintu tol, udah ada sekitar 4-5 mobil di depan, sementara di gerbang lain masih relatif sepi, tapi karena udah kadung, ya sudahlah, antri saja, toh gakan lama--pikir saya. Ditunggu, kok malah gak gerak... Pas saya lihat, tampaknya ada sesuatu dengan mobil paling depan... supirnya manggil petugas.... lalu tampak terjadi transaksi dengan UANG CASH!!! lah.... trus si petugas balik lagi ke posnya, ngasih uang kembalian, lalu pencet tombol di bagian belakang mesin, palangnya kebuka deh...  lamaaaaaa kan jadinya. Gerbang yang harusnya swalayan dan cepat malah, harus dilayani dan jadi lama. Duh.
Analisis: Mobil depan kayaknya ga punya kartu GTO, trus salah masuk gerbang, trus biar cepat, beli di tempat. Ga punya uang pas, jadi harus ada kembalian... 
Di banyak tempat, dan situasi, masyarakat kita memang jarang banget membaca rambu. Gak semuanya sih, tapi masih banyak ditemukan kejadian seperti ini. Selain tadi pagi, saya beberapa kali juga mengalami kejadian seperti ini. Karena gak punya GTO, si mobil paling depan ga bisa lewat, akhirnya, mobil yang belakangnya terpaksa mundur--termasuk mobil saya dan kejadiannya di pintu tol Cikarang Utama, untuk ngasih jalan agar mobil tersebut bisa ke jalan yang benar. Pernah juga satu ketika, pas mobilnya di depan saya, masih sama, ga punya kartu GTO tapi keluar di gerbang GTO. Karena saya malas mundur, akhirnya saya bilang ke petugas yang datang, saya bayarin deh. Mobil yang depan ternyata ngasih uang cash ke saya--lewat petugas itu.
Padahl, gerbang GTO itu jalurnya ada garis garis berwarna kuning, gerbangnya juga berbeda, juga ada pengumumannya, tapi masih banyak saja yang salah masuk. Ya begitulah. Lihat gerbang yang lain ngantri, dan ini ada yang kosong, nyelonong aja deh....
Semoga nanti ke depannya masyarakat kita terbiasa dengan penggunaan fasilitas umum dengan cara swalayan, jadi bisa menghemat waktu. Semoga. Merdeka!!


gambar dari: http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/559f534524a9d508798b4567.jpeg?t=o&v=760
Share:

Sunday, 2 July 2017

Mudik Soto





Sudah menjadi tradisi bagi orang Indonesia untuk pulang kampung saat lebaran untuk bersilaturrahim dengan keluarga di kampung halaman. Mudik, ya, biasa kita menyebutnya begitu. Nah, lebaran tahun ini pun, saya dan keluarga juga mudik. Ke Semarang dan Pati. Yup, saya mudik ke keluarga istri. Kebeulan ada acara keluarag besar ayah mertua di Semarang.

Buat saya, ini mudik kali kedua ke Jawa Tengah. Empat tahun yang lalu juga kami sekeluarga juga pulang ke Semarang dan Pati, dengan tujuan yang sama: Acara Keluarga Besar (alm) R. Hartosutarmo, kakeknya istri saya. Namun, yang menjadi perbedaan, pulang tahun ini, kami adalah "tuan rumah" untuk acara keluarga besar tersebut. Jadi, mau ga mau, ya harus pulang dengan segala persiapan dan keribetannya.

Tapi... dibalik keruwetan, tentu ada kesenangan, dan kesenangan yang paling gampang adalah menyenangkan lambung. Apalagi saat lebaran ini. Hmmm.... 

"terbayang sudah aku disana...  turun ke warung, makan yang enak, mengisi perut sampai kenyaaaang".

Hari pertama mudik saya berada di Semarang. Menurut teman saya yang orang Semarang, nama kota ini berasal dari kata Asem dan Arang; daerah yang ditumbuhi pohon asem tapi tumbuhnya jarang (arang). Disini saya menikmati tahu gimbal, soto ayam, dan es campur.

Tahu Gimbal  


Tahu Gimbal khas Semarang

Kuliner pertama yang dicoba pas di Semarang adalah tahu gimbal. Ini makanan mirip-mirip kupat tahu klu di Bandung. Ada tahu, pake bumbu kacang, kol, telor goreng, lalu yang bikinnya Bob Marley... hehe. Tentu saja bukan. Gimbal disini maksudnya udang digoreng pake tepung. Jadi mirip peyek udang. Nah, yang saya coba ini judule Tahu Gimbal Pak Kris. Iseng coba nyari di gugel, eh ada. Mayan terkenal nih. Untuk soto ayam yang ini, sama sama es campurnya di-skip aja ya. Agak kurang seru. Biasa aja. Cerita soto masih berlanjut...
Balada Soto
Setelah di Semarang, perjalanan lanjut ke Pati, Bumi Mina Tani. Duh, maaf, gak sempat mampir ke rumah Pak Ganjar Pranowo ya. Kan Gak Kenal. 😜 Sebelum sampai di Pati, kami berhenti sejenak di Kudus, Kota Kretek, untuk menikmati Soto Kudus. Soto Kudus langganan kami adalah Soto Kudus Pak Sulichan (sila di-search ada juga di GMaps), namun sayang hari itu warungnya tutup, jadi pindah deh ke warung sebelah. Oh ya, lokasinya di pujasera depan alun-alun kota Kudus, itu loh, tempat makan yang parkirnya susah. hehehe. Saya pesan Soto Kerbau. Yup, daging Kerbau a.k.a Kebo atawa Munding. Hmm.. belum pernah coba, kata orang dagingnya "panas". Istri saya pilih pindang ayang, sedangkan mertua makan pindang kerbau. Oh ya, jangan salah dengan kata pindang ya, karena setiap daerah, pindang itu memiliki makna yang berbeda. Nih, penampakannya:

Soto Kerbau
Pindang Ayam


Setelah dicoba, daging Kerbau ya sama saja rasanya dengan daging Sapi. Oya, selain makanan besar, ada add-onsnya juga berupa sate paru dan sate ati-ampela. Enaaaak.


Warungnya Pak Djumadi

Perjalanan lanjut ke Pati, dan gak sempat mampir ke Menara Kudus. Sudah kemaleman. Sampe Pati, langsung menuju hotel. Loh, mudik kok ke hotel? itulah mudik versi keluarga saya. Ya karena gak punya rumah di Pati, dan memang tujuan ke Pati adalah nganter ibu mertua ke tanah kelahirannya. Di kabupaten penghasil Bandeng ini, saya menikmati berbagai makanan dan paling berkesan tentu saja Soto Kemiri. Soto lagi? Ya begitulah makanan khas Jawa Tengah arah Pantura; Soto.
Soto Kemiri

Tapi soto yang ini agak unik, bukan karena isinya kemiri semua ya-nama Kemiri karena berasal dari Desa Kemiri. Yang unik adalah penyajiannya dan tentu rasanya. Nasi soto disajikan dalam mangkok, di tambah kecambah dan suwiran ayam, lalu kuah sotonya dituang ke mangkok, lalu kuahnya ditumpahkan lagi ke dalam dandangnya, lalu dimasukkan lagi ke dalam mangkok. Yup, bolak balik gitu. Mungkin itu yang bikin gurih. Hihihi.
Ayam dijual terpisah!



Gak puas dengan suwiran ayam yang cuma ala kadarnya? Disini rider dari sotonya lebih wah. Ayam ungkep yang bisa dipilih bagiannya sesuka hati. Kepalanya aja, sayap aja, paha aja, punggung aja, ati ampela aja, dan dengan harga yang terjangkau. Ayamnya, ayam kampung muda. Uenak e polll. Joss Gandos! Yang kita nikmati adalah Soto Ayam Kemiri Pak Djumadi, kata Ibu mertua, ini paling enak di Pati. Tapi gak nemu di GMaps...  😁




Selain Soto Kemiri yang jadi menu tiap malam, di Pati juga ada Nasi Gandul, dan juga Kelo Mrico. Sayang kita tidak sempat mencicipi Nasi Gandul karena kita sarapan di Hotel. Eh sarapan di hotel disuguhi soto ayam dan nasi gondul. Lupa. Nah, kalau si Kelo Mrico, yang sebenarnya khas Rembang yang sempat menjadi korban di siang hari oleh kami sekeluarga, eh sama saya dan istri aja, karena yang lain pesen Mangut Kepala Manyung. Kelo Mrico, dari namanya tau dong ini masakan dengan rempah merica, dan rasanya pedes, nyereng, tapi segar sih, ditambah lezatnya daging ikan Manyung.
Kelo Mrico dengan Ikan Manyung


Ikan Manyung ikan apaan ya? kalau hasil gugel, ini ikan sama dengan ikan Jambal Roti. Selesai berkunjung ke rumah sanak famili di Pati, kami pulang menuju Bandung. Tentu saja dengan oleh-oleh aneka makanan keluaran Dua Kelinci. Yup, raksasa perkacangan di negeri ini berasal dari Pati loh, dan saingannya, si Ini Kacangku! juga dari Pati! Wah... Pati hebat *carimukadepanmertua. Di Dua Kelinci, tersedia arena mainan buat anak-anak dan juga tempat istirahat buat para pemudik, karena memang Pati dilalui oleh para pemudik arah Jawa Timur. Berikut momen keluarga di Dua Kelinci.


Funtime di Dua Kelinci

Sambil pulang, kami tidak lupa beli jambu air khas Demak. Cuma kali ini agak mengecewakan. Selain harganya mahal dari biasanya, rasanya kurang manis. Selanjutnya, biasanya kami makan pagi di Semarang, tepatnya di Soto Bangkong. Yup, soto lagi. Namun kali ini, disekip karena masih kenyang--padahal saya pengen. Tapi saya ceritain aja ya, soto Bangkongnya, karena seminggu sebelum lebaran, saya Dinas di Semarang. Soto Bangkong sih sama aja kayak soto lainnya. Isiannya juga bukan Bangkong atau Kodok. Ngeri amat. Sotonya diberi nama soto Bangkong karena pertama buka di Semarang di jalan Bangkong, sotonya sih soto ayam juga. Yang bikin enak adalah kawan makannya: ada sate kerang, sate telur puyuh, sate ati ampela, sate paru, tempe goreng dll. Banyak ya. Dan disanalah serunya, makan sotonya semangkok tapi kawan-kawannya banyak. Cuma dibanding soto Kudus dan soto Kemiri, soto Bangkong ini agak lebih mahal, ya karena di kota kali ya.
Soto Bangkong


Lanjut ke perjalanan pulang ya, karena masih ada satu tempat kuliner yang saya dan keluarga singgahi. Oh ya, sebelum meninggalkan kota Semarang, tentu saja kami mampir di Jalan Pandanaran. Itu loh, nama jalan di kota Semarang, tempat beli oleh-oleh tapi parkirnya susah. Nyaris gak bisa parkir sama sekali. Semrawut! Buat Pak Walikota, klu iya itu dijadikan pusat oleh-oleh khas Semarang, sediakan lahan parkir dong.

Kepiting Comal

Kuliner mudik kali ini ditutup dengan makan kepiting di Comal, Kab. Pemalang. Jadi ceritanya, istri saya pengen makan di tempat ini sejak dia masih gadis, tapi setiap lewat, gak bisa mampir kesana. Dan akhirnya, setelah 20 tahun menanti, istri saya bisa mencicipi kepiting di rumah makan spesialis kepiting ini, yang iklannya ada di sepanjang jalan sejak masih dari Pekalongan. Tau kan khasnya iklan Rumah Makan sepanjang pantura? Yup, contohnya: 30 Km lagi rumah makan Piring Seribu, 10 Km lagi rumah makan Piring Seribu. Kalau sudah lewat, iklannya masih ada trus kita disuruh putar arah! Di rumah makan spesialis kepiting ini, kami pesen Kepiting soka saos Padang. Dan setelah dicoba... Hmmm... Recommended ga ya?? Hehe... Entahlah. Selera orang beda-beda.
Kepting Soka saos Padang
Dan kepiting Comal ini menjadi kuliner penutup mudik kali ini. Semoga kita masih bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Aamiin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Happy Ied Mubarak everyone.
Share:

c'est moi

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.