Welcome Benvenuto Assalamualaikum Bienvenue Selamat Datang hua-nyíng-gua-nglín Willkommen Bienvenido Sugeng-Rawuh hwangyong-hamnida Wilujeung-Sumping Welkom Velkommen Aloha Salamaik-Datang Sawasdee

Friday, 29 October 2010

Serba Serbi S2

Melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi merupakan impian banyak orang. hampir setiap orang ingin sekolah tinggi, tentu dengan berbagai harapan. Begitupun saya. Alhamdulillah, saya dapat melanjutkan sekolah ke tingkat magister di sebuah Universitas di kota Bandung. Alhamdulillahnya lagi, kantor saya yang baik hati bersedia membiayai semua keperluan kuliah. Baik banget tuh kantor.
Kuliah di pascasarjana, tentu saja berbeda dengan kuliah ketika sarjana dulu. Secara usia, rata-rata mahasiswanya sudah bekerja semua. Saya sih menyebutnya, kelas dewasa. Dari segi materi, tentu saja bobotnya lebih, pun begitu dengan metode mengajar para dosennya. Seringkali kita harus mencari sendiri maksud sebenarnya dari materi yang diajarkan. Sang dosen biasanya hanya mengantarkan ke pintu gerbangnya, sisanya kita harus berusaha sendiri untuk mencari tahu.
Satu lagi hal yang unik adalah masalah kehadiran. Oke, di sarjana pun aturan ini ada, setiap mahasiswa harus memenuhi persyaratan 80% kehadiran untuk bisa ikut ujian akhir. Nah, di pasca ternyata aturan yang begitu juga ada (di Universitas saya lho ya, di tempat lain, entahlah...). Saya kira, kuliah di pasca tidak mementingkan yang begituan, yang penting kita mengerti dan memahami mengenai materi kuliah yang kita ambil. Berhubung dosen di pasca sebagian besar sudah 'professor', tentu jadwal mereka sangat padat. Sehingga, seringkali mereka absen dari kelas. Dengan alasan sedang keluar kota, ada kerjaan lain yang penting ataupun sedang ada rapat. Nah, kalau begini bisa diartikan kuliah S2 sama dengan kuliah sangat mandiri. Asupan dari sang profesor sangat minim, sementara mahasiswa dengan pengetahuan yang dimilikinya dituntut untuk dapat memahami hal yang sesungguhnya sulit mereka pahami. Lalu, buat apa bayar kuliah mahal kalau memang semuanya harus dicari sendiri? kita juga butuh penjelasan lebih lanjut dari ahlinya.
Kembali ke masalah absen. Jika hal ini terjadi pada sang profesor, misalnya dari 8 pertemuan, beliau hanya sanggup hadir 4 kali (hanya 50% saja), apakah ada konsekuensi khusus??? misalnya, mahasiswa dapat nilai cuma-cuma B- tanpa harus berusaha, yang berusaha dapat lebih. Atau konsekuensi lainnya. Nyatanya tidak! Yang ada paling make up class, itupun klu dosennya niat. Kalau tidak, ya gone with the wind deh...
Nah, saat ini saya sedang duduk di lantai dua Universitas yang (akan mungkin) saya cintai ini, datang kepagian karena memang seharusnya ada kuliah, namun sayang beribu sayang, sang dosen tiada datang. Jam selanjutnya saya ada kuliah lagi. Grammar. Buat saya, grammar sama dengan Kalkulusnya orang matematika. Ribet tapi menyenangkan. Tapi, jauh-jauh hari sang dosen sudah menyatakan ketidaksanggupannya untuk menghadiri kelas hari ini. Gosip yang beredar, hanya sang asdos yang akan mengawal kita buat progress test. Lalu setelah jumatan, ada kuliah lagi (seharusnya), tapi kembali kabar burung yang terpercaya menyatakan sang professor tidak akan hadir.
Lalu buat apa saya datang??? Ya buat memastikan bahwa gosip dan kabar burung itu bohong! tapi saya percaya, kabar itu BENAR. ono-ono ae...
Share:

Tuesday, 26 October 2010

Aku (mau) Menulis (lagi)

wah..wah... klu melihat postingan erakhir, dah lebih dari 9 bulan ternyata blog ini diabaikan. kalau pada wanita, jangka waktu segitu dah bisa dapat anak satu nih... hihihi.
well, apa sih yang baru dari saya sekarang??? oya, ga boleh protes, blog ini memang buat narsis-narsisan saya.. hehehe.
sekarang, setelah hampir setahun menikah (genap setahun 29 nov nanti), alhamdulillah, istri saya dah hamil. sudah tiga bulan. horrreyyyy. kata dokter Irna yang baik, bebe nya dah tujuh senti sekarang. senangnya. memang sih, istri jadi lebih manja, seikit-sedikit alasannya, bebe yang pengen... tapi karena sayang istri, saya sih ga keberatan.
sekarang saya juga lagi sekolah di UPI. ngambil pendidikan bahasa inggris. orang-orang pada heran, kenapa saya ngambil jurusan itu, padahal saya bukan guru atau pun dosen. memang sih, sebagian besar teman-teman kuliah saya sekarang adalah dosen dan guru. alasan saya ngambil kuliah di UPI karena pas daftar bareng sama teman-teman kantor yang lain. hihihihi.. silly memang tp, itulah alasannya. walaupun agak aneh, sekarang saya ingin menikmati kuliah di UPI. pengen tahu ilmunya jadi pengajar. kan saya juga beerja di dunia pendidikan. saya tahu kalau dah lulus juga bisa ngelamar jadi dosen. dimanaaaa gitu. hehehe
wah, sebagai permulaan, segitu dulu. lots of things to tell. later on.
Share:

Monday, 11 January 2010

The Real Weekend

Ini cerita dan sejarah yang akan saya utarakan masih seputar Indonesia dimana didalamnya terdapat saya dan keluarga mungil saya yang baru berdiri sebulan setengah yang masih menumpang hidup di rumah mertua dan belum dikasih tanda-tanda bakal dikarunia anak.
Semenjak pernikahan saya yang baru seumur jagung hibrida B yang merupakan jenis jagung bibit unggul yang ketika panen memiliki biji besar, walah kok malah ngomongin jagung. Kembali ke Laptop. Jadi semenjak pernikahan, saya memang sudah mengalami Weekend alias akhir pekan sebanyak enam kali. Bahkan dua kali wiken terjadi saat masih cuti hanimun dan tiga kali selanjutnya adalah long weekend, alias akhir pekan kangen-kangenan. Namun, baru wiken kemarin saya merasakan nikmatnya berkahir pekan dirumah menemani istri melakukan aktivitas istri rumah tangga-read:bukan ibu rumah tangga karena belum jadi ibu.
Begini kronologisnya, weekend pertama setelah menikah adalah weekend keluarga. Kami baru saja menikah, dan masih ada saudara-saudara dari kampung yang masih di Bandung, jadi kami meluangkan waktu bersama mereka. Weekend kedua adalah weekend cape sepulang dari hanimun. Berhubung hanimunnya tidak seperti hanimun orang kebanyakan-yaitu dengan memilih paket bertualang ke tempat hiburan, instead of paket mesra-mesraan ke tempat romantis. Jadi, selama wiken kami hanya beristirohat. cape gitu lho.
Nah tibalah kita di wiken yang ketiga, ini adalah long wiken pertama karena Tahun Baru Islam. Asyik kan tiga hari ga masuk kerja. Harusnya kita bisa berleha-leha, tapi entah mengapa dan kenapa, kita tiada bisa menikmatinya kerana kita harus dan mesti melaksanakan tugas negara yang lebih mulia dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengisi saku celana. Dikeranakan oleh datangnya sebuah proyek Mahakarya yang turun dari langit yang mewajibkan seluruh aparat yang ada di P4TK IPA-kantor dimana saya dibayar-untuk melaksanakan tugas negara selama tiga hari penuh di sebuah Hotel di Lembang. Hotel yang namanya kedengaran seperti diambil dari bahasa Jepang itu memang sudah beberapa kali menjadi tempat lembaga ini menyelenggarakan kegiatan yang musti diselenggarakan di luar kota. Jadilah minggu ini kita bekerja.

Memasuki wiken keempat, wiken yang lebih panjang karena ada cuti bersama dan hari Natal.
Hari pertamanya kita tiada kemana. Cukup di rumah sahaja. Hari Jumat-hari yang saya prediksi Bandung bakal macet sekali karena banyaknya migrasi sesaat dari kota lain, saya dan Istri, kedua mitoha dan seorang adik ipar pergi nonton, kemana lagi kalau bukan ke tempat nonton paporit kami, VPJ, Varis Pan Japa. Kita nonton Sang Pemimpi. Sebetulnya kita dah nonton berdua, cuma karena Ibu mertua pengen banget nonton filmnya Miles tsb, jadi kami gak bilang kalau dah nonton. Biar gak kecewa gitu lho... Nah, sabtu minggunya kita kemana ya?? Kok lupa ya. Oya, Kita ke rumah mama di Kiaracondong. Kita menginap disana, mamah dan papah harus ke Bekasi, menghadiri pernikahan. Sedianya kami akan menginap sampai hari Minggu, tetapi karena Ibu mertua sakit dan kurang senak badan, maka saya memberikan titah kepada permaisuri hati untuk tetap tinggal dirumah menemani sang bunda. Saya menjalankan rencana awal dengan tetap menginap di rumah mama, karena beliau belum juga pulang dari Bekasi sementara adik perempuan saya yang cantik jelita tinggal di rumah sendirian. Itulah kali pertama kami pisah ranjang. PISAH RANJANG dalam artian yang sebenarnya. Tidak tidak seranjang dan tidak bisa meng-anu.
Minggu kelima sekarang. Tetap libur panjang kusabab tahun Baru. Kenapa ya tahun baru mesti tanggalnya dimerahin? Apa toleransi karena semalamnya bakal begadang dan besoknya bakal bangun siang, sehingga yang bekerja, sekolah kuliah, dll akan kesulitan? Hmm... aneh, tapi bagi saya sih, asik-asik aja, mayanlah, libur. Day Off. Buat saya malam tahun baru sama saja dengan malam-malam yang lain. Tidak perlu menunggu hingga pukul 24.00. Kalau ngantuk, ya tidur saja. Itulah yang saaya lakukan, Tidur. Cuaca pun mendukung, karena semenjak siang hingga malam, kota Bandung diguyur air dari langit. Jangan tanyakan itu air dari langit keberapa, karena saya tidak mengerti masalah itu, Tanyakan saja pak Pak Erly, Pak Kandi, Pak Yamin, Pak Erwin juga mestinya tahu. Pokoknya tanyakan saya pada teman-teman kantor saya yang pintar-pintar itu. Mereka mestinya tahu. Dan saran saya, jangan ikuti lagunya Ebiet karena bertanya pada rumput itu percuma, bisanya cuma goyang doang. Juga jangan bertanya pada Galileo, dah mati. R.I.P alias A.L.M. Nah, esoknya kita ke rumah mama lagi, karena memang begitulah. Ke rumah mamah, memakan satenya mama, yang dibikin untuk malam tahun baruan. Gaya euy si mama. Selain sate, juga ada jagung bakar yang tidak enak. Mama juga bilang begitu, tidak bagus jagungnya, tidak muda, tidak enank pokoknya. Sedangkan hari Minggunya kami mesti ke kantor. Ealadala, kok ke kantor lagi, piye toh iki...
Nah wiken kemaren yang notebene nya adalah wiken keenam, saya dan istri rumah sahaja. Sabtu-Minggu. Kerjaannya simpel. Makan, Tidur, EE & E*E, Makan lagi, Nonton TV, dan Main Game. Benar-benar menyenangkan. Saya menemani sang pujaan hati beres-bers rumah, mencuci, pokonya lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Dua hari penuh kami begitu saja. Buat saya itu adalah hal yang menyenangkan. Ditemani hujan rintik-rintik, kami meghabiskan liburan akhir minggu ini dirumah. Inilah akhir pekan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya, orang-orang lebih asyik menghabiskan waktu wiken dirumah (bisa juga jalan-jalan), dibandingkan harus lembur meski dibayar agak gedean, karena momen kebersamaan itu lebih tinggi nilainya dari hanya sekadar uang lembur. Kecuali uang lemburnya satu bulan gaji, itu mungkin bisa dipertimbangkan..hehehehe
Share:

Friday, 8 January 2010

No Messages, No Missed Calls

Saya masih ingin bercerita tentang kehidupan setelah menikah. Menarik dan banyak serba serbinya. Jadi begini, sebelum menikah, saya termasuk sering men-charge ponsel saya karena sering dipake. Pulsa pun sering bengkak, belum juga sebulan dah harus beli pulsa lagi, padahal setiap kali beli pulsa, saya selalu membeli minimal IDR 50,000. Ya, namanya juga orang pacaran. Jadi sering nelpon, apalagi SMS. Hampir setiap saat SMSan. Pulsa akan lebih membengkak dan frekuensi penggunaan Ponsel akan lebih sering lagi apabila salah satu diantara kami dinas luar kota. Sudah dipastikan dompet selalu bobol buat pulsa.
Setelah selama sebulan ini, saya baru sekali mengisi pulsa, sampai saat ini masih tersisa banyak. Setiap hari, POnsel saya jarang bergetar dan berdering karena tidak ada yang SMS dan nelpon. Orang yang dulunya sering menelpon dan SMS, sekarang sudah serumah dengan saya. Jadi mu kirim kabar apalgi, wong tiap hari juga ketemu. Kadang-kadang saya kangen juga dengan masa-masa SMS seperti itu. Percaya gak, kita pernah SMSan sampai pukul tiga dini hari. Hanya SMSan. Tapi keuntungan kondisi sekarang adalah uang untuk pulsa bisa digunakan untuk kepentingan lain. Dengan berumah tangga, tentu kebutuhan akan meningkat sehingga sibutuhkan juga dana tambahan.
Share:

Thursday, 7 January 2010

Irit, Pelit, atau Parasit

Kehidupan setelah menikah banyak berubah. Itu pasti. Semua orang mengalaminya. Saya pun demikian, dari yang dulunya apa-apa sendiri, sekarang sudah ada yang bantuin. Misalnya mau ke kantor, setelah selesai mandi, baju-celana-kaos dalam-cd semuanya sudah siap, tinggal pake; duuh enaknya. Semuanya serba sudah disiapin, begitu juga masalah makan. Semuanya tinggal nyuap. Tx ya beb.
Berhubung saya masih baru menikah, untuk sementara ini tinggal di PMI alias Pondok Mertua Indah. Selain alasannya nemenin mertua yang dirumah cuma tinggal berdua, alasan lain emang karena lum punya rumah sendiri alias kere. hehehe. Orang bilang sih, tinggal baren mertua kagak enak. Gak bebas lah, mertuanya judes lah. Apalah. Ini itu lah. Lah lah lah deh pokoke. Tapi saya bersyukur karena mertua saya baik plus jago masak. hehehehe. Berhubung sang pujaan hati baru bisa masak air, jadi makan ikut mertua dulu. Meskipun masakan Jawa dan saya orang Sumatra, masakan sang mertua cocok di lidah, pedas dan tidak manis. maknyooosh...
Akhir-akhir ini, untuk makan siang di kantor, saya lebih sering membawa bekal dari rumah (dari rumah mertua maksudnya). Bukannya pelit ngeluarin uang, tapi selain masakannya yang enak, juga bisa ngirit. hehehe. Sebelum menikah dulu, lebih sering makan siang di luar, lumayan, sekali makan bisa sampai IDR 20,000an gitu. Coba kalau sebulan, bisa ngirit banyak kan kalau bekal. Namun acara bekal-membekal ini tentunya tidak setiap hari dan tidak juga dipaksakan harus setiap hari. Selain karena setiap hari Rabu ada jatah makan bersama di Kantor, kita juga sering dapat makan dari kantor kalau ada rapat yang sampai siang belum kelar, lumayan juga kan ngirit. Selain itu, kalau tiap hari terus-terusan bekal, ntar malah jadi parasit sama mertua dong, walaupun beliau tidak keberatan sih..hehehe.
Share:

Wednesday, 6 January 2010

New Year, New Life, New Beginning, New Hope

Hufffffffffff...dah lama ga ngeblog disini...kangen juga, kangen nulis-nulis lagi...
Sekarang dah tahun 2010, sudah sekitar tiga tahun umur blog ini. Dulunya blog ini dibuat untuk ajang Pedekate, setelah pedekate berhasil, rutinitas nulis disini jadi menurun. mungkin karena motivasinya salah kali ya, bukan karena pengen menulis dan mencurahkan isi hati tetapi karena ingin dibaca oleh "target" dan dikasih komen. hehehehe. Sekarang semuanya sudah berlalu, masa pedekate itu sudah tidak ada lagi, jadi ingin menimbulkan kembali hasrat untuk menulis. Kali ini bukan karena faktor darinluar tetapi benar2 menulis karena ingin menulis. semoga saja...

Awal tahun 2010 ini cukup banyak yang berubah dalam hidup saya. Tahun ini memasuki tahun keempat bekerja diinstansi pemerintah ini, semoga saja bisa naik pangkat tahun ini. Aamiin. selain itu, kehidupan pribadi juga sudah berubah. Sang target PDKT sekarang sudah sah menjadi mantan pacar tetapi boleh bobok bareng, hehehe. Yup, Saya berhasil menaklukannya, orang tuanya dan sekaligus menepis keraguan orang tua saya.
Peristiwa naas dimana kebujangan saya direnggut :) itu terjadi tanggal 29 Nov 09 yang lalu. Hari bersejarah itu alhamdulillah kami lalui dengan lancar. Tahun ini, benar-benar serba baru. Semuanya dimulai dengan hidup yang baru, semangat baru dan keluarga yang baru. Ya Allah, lingdungi keluarga kecil hamba, jadikanlah keluarga ini, menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah, Aamiin. Beberapa foto pernikahan kami dapat dilihat disini. Tahun baru, Kehidupan baru, Awal yang baru dan Harapan yang baru.
Share:

Wednesday, 5 November 2008

Northern Sky (OST Serendipity)

Filmnya sendiri menarik. seru. Kebetulan kemaren pas jalan-jalan lihat DVDnya. Beli deh. Serendipity sendiri berarti the faculty of making fortunate discoveries by accident; the lucky tendency to find interesting or valuable things by chance.
Film yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale ini memang cukup unik. Jadi, kalau kita memang jodoh dengan seseorang, cepat atau lambat pasti akan disatukan Tuhan. Hal lain yang menarik adalah buku yang digunakan dalam film ini adalah Love in Time of Cholera. Novel yang akhirnya juga difilmkan. Dan kisahnya hampir-hampir mirip. Intinya sih, kalau jodoh gakan kemana. Dari sekian banyak soundtracknya, lagu dibawah ini adalah salah satu yang bagus menurut saya. Enjoy!


I never felt magic crazy as this
I never saw moons knew the meaning of the sea
I never held emotion in the palm of my hand
Or felt sweet breezes in the top of a tree
But now you're here
Brighten my northern sky.

I've been a long time that I'm waiting
Been a long that I'm blown
I've been a long time that I've wandered
Through the people I have known
Oh, if you would and you could
Straighten my new mind's eye.

Would you love me for my money
Would you love me for my head
Would you love me through the winter
Would you love me 'til I'm dead
Oh, if you would and you could
Come blow your horn on high.

I never felt magic crazy as this
I never saw moons knew the meaning of the sea
I never held emotion in the palm of my hand
Or felt sweet breezes in the top of a tree
But now you're here
Brighten my northern sky

Share:

c'est moi

Member of

1minggu1cerita