Welcome Benvenuto Assalamualaikum Bienvenue Selamat Datang hua-nyíng-gua-nglín Willkommen Bienvenido Sugeng-Rawuh hwangyong-hamnida Wilujeung-Sumping Welkom Velkommen Aloha Salamaik-Datang Sawasdee

Monday, 16 October 2023

Menuju Atap Jawa Barat

 





Dalam perjalanan kehidupan yang tak pasti, kita berjalan di sepanjang jalan yang luas dan terbuka. Setiap langkah membawa cerita yang berbeda, penuh dengan kebahagiaan, kesedihan, dan keajaiban yang tak terhitung. Kita lahir ke dalam dunia yang misterius, seperti kanvas kosong yang siap diisi dengan warna-warna cerita. Kita belajar, tumbuh, dan berkembang seiring waktu, menghadapi rintangan, tantangan, dan peluang yang datang. Di antara sorot matahari terbit dan terbenam, kita mengalami cinta, persahabatan, dan hubungan yang mendalam. Kita merasakan kegembiraan dalam tawa dan senyum, dan mengatasi duka dalam air mata yang tumpah. Kehidupan adalah perjalanan yang menakjubkan, dengan puncak-puncak kebahagiaan dan lembah kesedihan. Kita belajar dari pengalaman dan kesalahan yang kita buat, dan tumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Kita tak pernah tahu apa yang akan datang besok, namun kita berdiri teguh dengan harapan dan keyakinan. Karena dalam setiap sajak kehidupan yang kita tulis, kita menemukan arti sejati dan makna yang mendalam. Maka, nikmatilah setiap saat dalam perjalanan ini, hargai keindahan dalam hal-hal kecil yang sederhana. Karena kehidupan adalah hadiah yang luar biasa, penuh dengan keajaiban yang tak terhitung dan tak ternilai.






Ciremai, 8 Oktober 2023





Share:

Monday, 25 September 2023

Balige: Menikmati Toba Lebih Dekat


Akhirnya, salah satu destinasi yang ingin saya kunjungi, tercapai juga. Yup, Danau Toba di Sumatra Utara. Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. Danau dengan panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer ini merupakan kaldera gunung berapi Toba yang meletus sekitar 74.000 tahun yang lalu.


Untuk mencapai Danau Toba, kita bisa menggunakan bandar udara Sisinga Mangaraja XII, yang terletak di kecamatan Siborong-borong. Meskipun tidak begitu besar, bandara ini merupakan bandara internasional yang memiliki penerbangan langsung ke luar negeri.


Kabupaten Toba sendiri merupakan salah satu kabupaten yang mengelilingi danau Toba. Sebelumnya, kabupaten ini bernama kabupaten Toba Samosir yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 1998 lalu. Kemudian, kabupaten Samosir juga dimekarkan dan diresmikan pada tahun 2004. Sehingga sekarang kabupaten Toba dan kabupaten Samosir menjadi dua kabupaten yang berbeda.


Kalau mengunjungi suatu daerah, tentu belum lengkap kalau tidak mencoba kuliner khas daerah setempat. Nah, salah satu makanan khas daerah Toba adalah Mi Gomak. Tekstur mi dari mi gomak ini agak mirip dengan Mie Aceh. Bentuk minya agak besar seperti pasta Italia. Mi Gomak dapat dinikmati dengan kuah atau tanpa kuah.
Makanan lain yang wajib dicoba adalah Dengke Mas Naniura. Naniura merupakan makanan yang menggunakan ikan mas atau ikan mujair sebagai bahan utamanya. Naniura berarti dimasak tidak menggunakan api. Memang, ikan yang disajikan tidak dimasak dengan api, namun ikan tersebut "matang" karena fermentasi rempah-rempah dan bumbu yang digunakan, utamanya Andaliman, atau lebih dikenal dengan nama Merica Batak. Meski tidak dimasak, naniura tidak berbau amis dan tetap enak dimakan.






Share:

Tuesday, 8 August 2023

Pulang


Beberapa waktu yang lalu, saya tak sengaja melihat buku ini di salah satu etalase toko buku terkenal. Sampulnya menarik perhatian saya untuk mengambilnya dan membuka bagian dalam buku tersebut. Wah ternyata buku lama dan ini merupakan cetakan keduapuluh dua. Lalu saya lanjut membaca riviu di bagian belakangnya. Menarik. Dibeli deh. Mungkin dah agak telat ya, tapi tak mengapa, kita riviu sajo. Oya, jangan tertukar dengan karyanya Tere Liye dengan judul yang sama ya...


Novel ini ditulis oleh Leila S Chudori, seorang jurnalis dan juga penulis yang pernah meraih Southeast Asian Writers Award di tahun 2020 lalu. "Pulang" merupakan novel yang mampu membawa pembaca ke dalam perjalanan melintas waktu dan ruang melalui berbagai macam karakter yang beragam dan menarik. Banyak peristiwa sejarah yang diceritakan novel ini. Utamanya lanskap politik tanah air di tahun 60-an di mana saat ini arah politik Indonesia condong ke arah kiri.


Dalam novel ini diceritakan bagaimana kehidupan para aktivis dan keluarga mereka dalam pengasingan. Kita akan dibawa melintasi beberapa dekade dan melintasi beerbagai macam tempat mulai dari Jakarta hingga Paris. Kita akan terbenam dalam kompleksitas kesedihan, kemenangan, dan kehidupan karakter-karakternya. Rumitnya hubungan keluarga, kenangan, dan pencarian identitas diri menjadi inti dari karya ini.


"Pulang" bukan sekadar kisah perjuangan politik; ia juga merupakan eksplorasi mendalam tentang cinta, ketabahan, dan semangat tak tergoyahkan manusia. Keahlian Chudori terletak pada kemampuannya untuk menyatukan sejarah dengan fiksi, dengan lancar menggabungkan ranah personal dan politik, menciptakan kain cerita emosi yang menggugah pembaca. Novel ini juga mampu mengajak pembaca merenungkan tema tentang rumah, identitas, dan pengorbanan yang dibuat demi prinsip. 


Share:

Sunday, 2 July 2023

Kedinginan di Rengganis

 


Asiiiik, kami camping lagi. Setelah sekian lama tidak menikmati alam bebas bersama anak-anak, akhirnya akhir pekan kemaren (24 - 25 Juni 2023) kesampaian lagi. Kali ini kami kembali ke daerah Rancabali, Ciwidey, Bandung Selatan, tepatnya di Rengganis Campsite. Lokasinya cukup dekap dengan Situ Patenggang. Tempat camping ini relatif baru dan mereka menawarkan suasana ala ala Korea-kata iklannya di medsos sih.

Seperti biasa, kami harus booking jauh-jauh hari untuk mendapatkan tempat di sini, dan karena kami ingin bawa tenda sendiri, maka kami hanya menyewa lahan saja. Untuk itu, kami cukup membayar IDR 300,000 saja. Sudah termasuk listrik, parkir, dan toilet. Di keterangan awal, ukuran per kavlingnya 4x6 meter, kenyataannya lahannya belum ada kavling-kavlingnya, jadi bebas. Hehehe. Kalau pun dikavling, lahannya cukup luas dan cukup banget untuk tenda kami tipe Arpenaz 4.2.

Biasanya kami akan datang di perkemahan pukul 12 siang, agar punya waktu banyak bermain di lokasi di sore hari. Namun, hari itu si Tengah ada acara perpisahan kelas, jadi terpaksa kami berangkat agak sorean. Jam setengah tiga kami baru mulai perjalanan, dan sampai di lokasi sekitar pukul setengah lima. Sepanjang perjalanan dari Ciwidey menuju Rengganis, kami dihadiahi pemandangan hijau menyejukkan mata. Indah sekali. 

Ketika sampai, memang sudah agak sore. Dari parkiran ke kavling kami di Blok D, agak jauh. Untung ada bantuan dari petugas setempat yang sudah menyiapkan gerobak untuk membawa bawaan kami yang cukup banyak. Setelah semua barang diturunkan, saya langsung memasang tenda, flysheet, dan juga menyiapkan peralatan untuk tidur. Cukup banyak tenda lain di blok kami.


Malam di Rengganis cukup dingin ternyata. Hidung sampai meler. Ditambah suasana Blok yang cukup ramai, membuat saya susah tidur. Kebetulan, angin malam itu berhembus ke arah tenda kami. Jadi, asap api unggun juga sangat terasa. Cukup bikin sesak. Ditambah, penghuni tenda sebelah, tidurnya ngorok banget. Hahahahaha. Lengkap sudah. Oya, karena malam Minggu, ada live music gitu. Seru juga. Toilet di sini cukup bersih. Ada kamar mandi yang dilengkapi water heater juga. Pakai gas. Jadi bisa langsung panas, selama gasnya masih ada.


Suasana pagi cukup syahdu. Tenda kami menghadap ke perkebunan kol. Hijau. Menyejukkan mata. Spot yang bagus. Setelah beraktivitas di tenda dan jalan-jalan berkeliling lokasi, kami berkemas untuk siap-siap pulang. Kami meninggalkan Rengganis Campsite pada pukul 12 siang dan untuk membawa barang-barang, kembali kami dibantu oleh petugas meskipun tidak menggunakan gerobak karena gerobak hanya ada satu dan dipakai oleh pengunjung lain. So, sarannya, baiknya gerobaknya ditambah ya pak. 


Kami tidak langsung pulang, tapi lanjut jalan-jalan. Karena berada di daerah Rengganis, kami memutuskan untuk mengunjungi kawah Rengganis. Lokasinya sekitar 10 menit ke arah selatan. Di sini kami diberi penjelasan tentang beberapa tiket. Ada tiket ke kawah saja seharga IDR 15,000. Ada tiket kawah dan jembatan gantung seharga IDR 70,000, dan juga ada tiket VIP seharga IDR 100,000 yang mana kita bisa menikmati semua wahana-Kawah, Keranjang Sultan, dan Jembatan Gantung. Tiket VIP juga sudah termasuk tiket masuk ke Phinisi Resto di wilayah Glamping Lakeside. Mumpung masih suasana liburan dan ingin menyenangkan anak-anak, saya membeli tiket VIP. Berempat jadi IDR 400,000 ditambah IDR 5,000 untuk mobil. Lumayan. Lebih mahal ketimbang kempingnya. Hahahaha. 

Setelah parkir, kami langsung menuju ke jembatan gantung. Katanya, jembatan ini adalah yang terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan ini membentang sepanjang 370 meter di atas ketinggian 75 meter. Ketiga melintas di atasnya, jembatannya cukup goyang, lumayan ngeri juga. Bagi kamu yang takut ketinggian, cukup menantang.


Setelah melintasi jembatan, tadinya saya ingin mengajak anak-anak untuk naik Keranjang Sultan. Tetapi karena antreannya sangat panjang, akhirnya kami lansung menuju kawah. Si Bungsu agak terganggu dengan aroma kawah yang sangat menyengat. Dia memang agak sensitif dengan bau-bauan. Tapi mereka cukup senang bisa menikmati hangatnya air kolam di daerah kawah. Dari ketinggian, kawah Rengganis cukup indah. Cukup banyak tempat yang bisa dijadikan spot foto.


Di wilayah kawah, kita hanya boleh berada di sana maksimal setengah jam, karena akan mengganggu kesehatan kalau terlalu lama di sana. Pulangnya kami kembali lewat jembatan, dan kali ini pengunjung sangat ramai. Angin pun bertiup cukup kencang sehingga jembatan sangat goyang ketika kami lintasi. Turis mancanegara cukup banyak sore itu. Terutama dari Malaysia. Ketika saya lewat, tak sedikit pengunjung yang teriak histeris dan bahkan ada sepasang suami-istri yang sampai mengatakan bahwa kalaupun nanti mereka mati, mereka akan mati berdua. Enta mereka serius atau tidak, entahlah. Setelag sampai di atas, kami makan di Kinara Resto. Menurut saya, untuk ukuran resto yang berada di tempat wisata, harga makanannya cukup murah dan rasanya pun enak.

Setelah kenyang, kami lanjutkan perjalanan ke Glamping Lakeside karena memang searah jalan pulang. Saya ingin si Bungsu mengunjungi tempat ini karena kedua kakaknya sudah pernah ke sini dulu. Di sini kami tidak terlalu lama. Melihat indahnya Situ Patenggang dari atas resto sebentar, lalu kami lanjutkan perjalanan pulang. Tidak lupa, saya sempatkan membeli buah Lontar di daerah Ciwidey. Tadinya ingin makan Durian lokal, tapi karena anak-anak tidak tahan dengan baunya, akhirnya saya mengalah. Tak apa, yang penting mereka senang.

Kemping kali ini cukup menyenangkan.



Share:

Monday, 19 June 2023

TerWahoo Wahoo



Anak-anak saya, terutama yang cewek-cewek, sangat senang sekali bermain air, bukan berenang ya. Tapi lebih ke basah-basahan. Nyemplung. Frekuensi ke waterpark pun terbilang sering. Memang agak menurun sejak pandemi. 

Nah, beberapa waktu yang lalu, sebuah taman bermain air yang katanya terbesar di Jawa Barat baru saja dibuka. Wahoo Waterworld.  Berlokasi di Kota Baru Parahyangan, taman bermain ini memiliki luas total sekitar 10 hektar. Di sini terdapat 13 wahana yang dapat dinikmati mulai dari yang ekstrem sampai yang santai-santai.

Ketika kami ke sana, sedang libur lebaran memang, sehingga harga tiket saat itu cukup mahal, IDR 150,000, dan memang harga tiket untuk musim liburan saat ini pun, segitu. Saat itu, saya membeli tiket secara online melalui situs resmi Wahoo Waterworld. Benar saja, karena ketika akan sampai di gerbang masuk semua tiket diperiksa dan yang sudah memiliki tiket secara dipersilakan masuk sementara yang ingin membeli tiket di tempat harus gigit jari karena tiket sudah habis. Saat itu, tiket yang dijual memang terbatas.


Sampai di lokasi pukul 10 pagi, saya harus antri untuk menukarkan tiket dan menyewa gelang. Untuk gelang cukup satu saja per keluarga dengan melakukan deposit IDR 50,000. Jika ingin lebih, mungkin karena jumlah anggota keluarga yang ikut cukup banyak, maka kita bisa mendapatkan gelang tambahan dengan deposit IDR 50,000 per gelangnya. Untuk apa gelangnya? Gelang digunakan sebagai tiket masuk dan juga untuk pembayaran di beberapa gerai di dalam termasuk untuk penyewaan loker dan ban. Gelang tersebut dapat di-top up di mesin swa-layan atau pun di kasir suvenir. Setelah mendapatkan gelang, kami antri lagi untuk masuk, dan karena libur lebaran, antriannya cukup panjang meski pengunjung sudah dibatasi. Akhirnya saya masuk sudah pukul 11 pagi. Butuh 1 jam untuk antri tuker tiket dan antri masuk ke dalam. Mayan lelah juga. Sebetulnya, Wahoo sendiri buka sejak pukul 9 pagi. Jadi kalau ingin tidak terjebak antrian panjang, datanglah lebih awal.

Begitu masuk, saya langsung top-up gelang agar nanti bisa langsung digunakan. Oya, waktu itu maksimal top up hanya boleh IDR 300,000 dan saldo sisa serta uang deposit nanti pas pulang bisa di-refund. Kemudian ke ruang ganti sekaligus sewa loker untu menyimpan baju bersih dan tas. Tersedia dua loker, yang besar dan kecil. Tapi, yang ukuran kecil juga, sudah cukup besar ukurannya. Cukuplah untuk dua travel bag, backpack ukuran sedang, dan sandal. Biaya sewa yang kecil IDR 25,000, sedangkan yang besar IDR 35,0000. Lokernya lumayan canggih ya, jadi anda harus cermat untuk menekan tombol-tombolnya. Biasakan membaca hingga tuntas semua petunjuknya ya. 


Setelah semuanya selesai, langsung deh kami bermain air. Cuaca cukup bersahabat, meski sedikit gelap. Wahana pertama yang kami coba Rainfortress, si benteng hujan. Yup, anda serasa bermain di bawah hujan, dan ketika waktunya tiba, ada ember besar yang akan menumpahkan berliter-liter air. Di bagian ini juga terdapat luncuran yang cukup seru buat anak-anak. Airnya cukup dingin di sini. Pertama kena cipratan air, saya cukup kaget. Karena dingin.

Wahana selanjutnya yang kami coba adalah Abyss. Nah wahana ini cukup ektrem karena kita akan meluncur dari ketinggian 17 meter di lintasan sepanjang 120 meter. Sebelum sampai di kolam finis, kita akan melalui luncuran yang sangat curam lalu jatuh sebuah corong raksasa kemudian akan terombang ambing di dinding corong. Sensasi ketika meluncur di luncuran curam yang sangat menegangkan buat saya. Serasa jatuh dari ketinggian. Si kecil pun agak ketakutan saat melintasi luncuran ini. Oiya, di wahana ini kita menaiki ban dengan kapasitas maksimal 3 orang dan bannya sudah disediakan jadi tidak perlu sewa.

Selanjutnya kami makan siang. Karena tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar, kami bergerilya mencari makanan di beberapa gerai. Dan bertepatan pula saat itu turun hujan, sehingga semua wahana dihentikan. Pengunjung pun sangat ramai di area makan ini. Saya butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan makanan yang saya inginkan. Kayaknya ini masih PR deh buat pengelola. Entah menambah jumlah gerai atau solusi lainnya. Fase makan siang ini cukup memberikan kesan negatif buat saya tentang  Wahoo ini. Oiya, di sini juga terdapat Mushalla ya. Jadi, meskipun berekreasi, ibadah juga masih bisa terlaksana.


Setelah hujan reda, dan wahana-wahana kembali dijalankan, kami berkeliling lagi mencoba area yang belum dicoba. Kami mencoba menikmati, bersantai, dan bermalas-malasan di Lazy River. Kolam sungainya cukup panjang dan arusnya cukup terasa. Jadi kita tak perlu mengayuh agar ban yang ditumpangi bergerak. Oiya, untuk wahana ini, kita perlu menyewa ban ya. IDR 50,000 untuk double dan IDR 35,000 untuk single, dan tentu saja bayarnya cashless pake gelang. Nanti akan diberikan gelang kertas yang tidak boleh hilang, agar kita bisa menggunakan bannya berulang-ulang. Juga bisa digunakan di kolam ombak.

Kemudian kami menikamati Wave Pool. Kolam ombak ini beroperasi setiap satu jam sekali. Biasanya akan ada pengumuman sebelum kolam obak dioperasikan. Untuk main di sini kita perlu menggunakan ban, tapi jangan khawatir, kita bisa menggunakan ban yang ada di dekat kolam dengan syarat menunjukkan gelang kertas yang tadi diberikan saat menyewa ban di Lazy River. Di kolam ombak ini tentu saja kita akan merasakan sensai dibuai ombak dengan enam pola ombak yang berbeda. Durasi ombaknya cukup lama sehingga sekali saja mencoba kita cukup puas. Tapi waktu itu, saya dan keluarga sampai tiga kali mencoba. Hahahaa. Seru memang.

Di dekat kolam ombak, ada Lagoon Pool dan Warm Pool. Airnya cukup hangat. Cuma kolam air hangatnya tidak terlalu luas sehingga ketika banyak orang di situ, jadi agak sesak. Anak-anak juga senang main di dua kolam ini karena memang tidak terlalu dalam. Oya, anak-anak juga cukup senang bermain di area Spalsh Zone. Di sini terdapat beberapa luncuran yang tidak terlalu tinggi jadi anak-anak yang tidak cukup berani mencoba wahana ektrem, bisa di sini saja. Lumayan lah ya.

Selain wahana-wahana yang sudah kami nikmati, ada beberapa wahana lain yang lebih seru sebenarnya. Namun, karena anak-anak tidak begitu berani, jadi kita skip. Padahal ayahnya pengen banget. Nunggu mereka gede dulu ya. Sekarang masih 10 dan 8 tahun. Mungkin klu sudah SMP atau SMA, pada berani mencoba Rocket Blast, Boomerango, Superbowl, dan Caterpillar. Anak-anak terutama si Bungsu agak takut setelah tadi naik wahana Abyss. Di sini juga ada Play Zone, di mana terdapat rumah pohon dan juga jembatan gantung yang tidak terlalu tinggi. Cukup seru juga buat anak-anak apalagi balita. 

Secara umum, kami lebih banyak menghabiskan waktu di Lazy Pool, Rainfortress, Warm Pool, dan Wave Pool. Karena memang cocok dengan usia anak-anak. Dan secara keseluruhan, Wahoo Waterworld merupakan lokasi yang sangat menyenangkan. Mungkin PR-nya tinggal meningkatkan layanan saat proses masuk, biar tidak makan waktu yang banyak serta pelayanan di gerai makanan. 

Satu lagi nilai plus Wahoo Waterworld ini adalah area sekitarnya yang instagramable banget. Yup, banyak spot menarik yang bisa digunakan untuk foto-foto. Seperti kapal-kapalan yang ada di depan pintu masuk, kemudian area dekat danau buatan. Dan yang pasti, karena berada di kawasan Kota Baru Parahyangan, tentu banyak tempat lain yang bisa dikunjungi seperti tempat makan, dan kalau tidak capek, bisa sekalian ke IKEA. Hahahaha... cuci mata.

Mau ke Wahoo lagi? Tentu saja.



Share:

Wednesday, 26 October 2022

Kali Kedua



Kali kedua, pada yang sama...

Akhir-akhir ini, lagu ini sering sekali nongol. Nyalain radio, yang diputar lagu ini. Pas makan, lagu ini juga. Bahkan pas di lapangan tennis, lagu ini juga yang diputar. Oh iya, ini lagunya Raisa yang paling saya suka. Dulu, pada masanya, lagu ini sering banget saya denger, sehingga ketika mendengarnya lagi sekarang, jadi mengingatkan ke sebuah tempat yang sangat indah. 

Oya, lewat lagu ini, Raisa dapat beberapa penghargaan dan yang paling keren tentu saja sebagai Artis Solo Pop Wanita terbaik di tahun 2016 lalu. Di lagu ini, Raisa bercerita tentang bagaimana rasanya jatuh cinta lagi pada seseorang yang dulu pernah hadir. Lagunya seperti lagu Raisa yang lain dengan nada yang indah, melankolis, dan romantis. Liriknya sendiri ditulis oleh Dewi Lestari yang memang jago membuat kata-kata yang puitis. 

Kali kedua, pada yang sama, sama indahnya...





Share:

Saturday, 13 August 2022

Healing, Bestie: Episode Datar Pinus

 


Akhirnya...

Setelah menunggu sekian lama, akibat pandemi, saya kembali bisa menikmati alam terbuka. Yup, setelah terakhir camping di tahun 2019, di akhir Juli kemarin dan awal Agustus ini bisa camping lagi bersama keluarga, di dua tempat yang berbeda malah.

Tempat pertama yang kami datangi adalah Datar Pinus. Dari namanya saja tentu sudah terbayang tempatnya seperti apa. Yup, kami berkemah di hutan pinus yang dingin dan mistis, wuuuuuu. Lokasinya yang di atas perbukitan membuat pemandangan di kawasan ini sangat menakjubkan. Kita bisa melihat hamparan kebun teh yang membentang luas di depan mata. Mendengar aliran sungai Palayangan yang mengalisr dari situ Cileunca, serta bisa juga menikmati terbitnya matahari di pagi hari. Emeijing.

Untu mencapai lokasi, dibutuhkan waktu sekitar kurang dari 2 jam perjalanan dari Bandung. Karena kami berangkatnya hari Sabtu, lalu lintas cukup padat. Terutama dari Soreang menuju Banjaran. Untuk yang dari luar kota, enaknya menggunakan Tol Seroja, dan keluar di pintu tol Soreang. Klu melewati jalur utama, jalannya cukup mudah. Dari Soreang jalan terus menuju Banjaran, terus belok ke jalan Banjaran-Pangalengan. Tapi karena kami menggunakan dan mempercayakan kepada Google Map, alhasil kami melewati jalan-jalan kecil yang ketika papasan dengan mobil lain, harus ada yang mengalah. hehehe. Tapi secara waktu tempuh memang lebih cepat. Tapi ya itu, masuk ke jalanan kampung. Tapi jalannya cukup bagus kok. Hanya beberapa titik saja yang aspalnya sedikit rusak. 


Lokasi perkemahan Datar Pinus berada di pinggir jalan Pangalengan - Ciwidey. Hanya 100 meter saja dari jalan tersebut. Namun kondisi jalan masuk ke perkemahan masih tanah dan berbatu. Kalau hujan, akan berlumpur dan licin. Jadi pengguna mobil kecil seperti saya ini, sangat PR sekali. Mesti pelaaaaaan banget dan harus pilih pilih jalur. Lalu jalannya cuma cukup untuk satu mobil saja. So, It was a quite breathtaking moment, for us. Bagi yang menggunakan mobil LMVP atau SUV, sepertinya tidak terlalu bermasalah ya. Lanjut sajo. 

Kami sampai jam 11.30. Setelah melakukan check-in dan konfirmasi booking, kami langsung memilih tempat. Tempat di bagian depan sudah penuh. Tenda-tenda besar sudah berdiri, dan sudah cukup ramai. Bagian depan ini juga spot untuk yang menyewa tenda dari pengelola. Lokasinya memang bagus. Langsung menghadap ke kebun teh dan di bagian depan. Tenda dari pengelola merupakan tenda dari Quechua tipe Arpenaz 4.1. Kami dapat di bagian agak belakang, tapi alhamdulillah, posisinya persis di sisi tebing, jadi mendapatkan view yang sama dengan spot bagian depan. Meskipun di sisi tebing, lokasinya sangat aman bahkan untuk anak-anak. Ada pagar bambu dan pagar alami (ada tumbuhan yang mengitari tebing. Jangan ditanya nama tumbuhannya ya...). 


Karena sudah lama tidak camping lagi, butuh waktu satu jam lebih untuk kami mendirikan tenda. Sekain itu, anginnya cukup kencang sehingga sedikit menambah kerepotan. Karena anak-anak agak bosan menunggu, akhirnya saya pasang hammock terlebih dahulu agar mereka bisa bermain. Syukurnya, tepat di samping spot tenda kami ada dua pohon pinus yang jaraknya sangat ideal untuk hammock. Setelah tenda berdiri, istirahat sebentar untuk shalat dan makan, lalu kami menikmati sore dengan berkeliling perkemahan, duduk santai, main gim, dan menikmati kudapan sore. Oya, tenda kami adalah Quechua tipe Arpenaz 4.2 dan cukup leluasa untuk saya dan keluarga. 



Malam hari, setelah menikmati makan malam, saya mencoba menyalakan api unggun. Ini kegiatan yang "PR" banget. Karena sebelumnya saya selalu gagal menyalakan api unggun tanpa bantuan minyak tanah yang banyak. Namun malam itu, untuk pertama kalinya saya berhasil menyalakan api unggun tanpa minyak tanah. Ada bantuan dari beberapa potongan damar bergetah sih ya sebagai bahan bakarnya. Juga buah pinus kering. Anak-anak juga senang mencari pinus untuk dibakar. Bahkan si bungsu yang "jijik" dengan tumbuhan pun mau mencari meskipun jadinya agak repot ya, karena dia butuh tisu untuk memegang buah-buah pinus itu. Api unggun menyala, kita menghangatkan badan sambil bercengkrama sambil anak-anak membakar marshmallow. Ini adalah kegiatan favorit mereka. Makan marshmallow agak hangus sambil mengingat episode Spongebob makan marshmallow dengan Patrick. Suhu di malam hari tidak terlalu dingin. Tubuh saya yang ringkih cukup kuat hingga jam delapan malam tanpa jaket. Terasa dingin banget pas subuh. Ketika terbangun jam tiga subuh untuk buang air kecil. Nah, baju hangat cukup tebal sangat berguna nih. Juga, sleeping bag yang tebal akan membantu tidur. Pulas.


Pagi hari, karena posisi tenda kami tepat di sisi bukit, kami bisa menikmati terbitnya sekaligus hangatnya mentari pagi. Pemandangannya sangat menakjubkan. Melihat hamparan kebun teh diselimuti kabut, gunung di kejauhan serta hamparan awan. Masyaa Allah pokoknya.


Kondisi perkemahan cukup ramai. Hingga sore bahkan malam hari, pengunjung masih berdatangan. Untuk fasilitas perkemahan sendiri cukuplah ya. Ada mushalla, ada toilet dengan air cukup dingin khas pegunungan. Jumlah toiletnya cukup. Untuk kebersihannya, so so lah ya. Engga yang jorok hingga males masuk, tapi ga kayak toilet hotel juga. Hehehe. Kalau buat saya, parameternya adalah anak bungsu saya mau masuk ke kamar mandi tersebut. Di beberapa toilet, ada serangga yang menempel seperti laba-laba. Dan anak saya menemukan seekor belalang tongkat di salah satu toilet. Dia senang. Lalu bilang, "Ayah, Adek menemukan binatang langka." 😁

Untuk biaya yang dikeluarkan untuk menikmati kesenangan ini tidaklah mahal. Sangat-sangat terjangkau. Cukup membayar Rp. 30.000 per orang ditambah Rp. 20.000 untuk mobil. Lalu Rp. 30.000 untuk kayu bakar dan Rp. 15.000 untuk sewa kabel. Yup, di sana ada listrik. Jadi ga perlu khawatir gelap. Cukup bawa lampu saja. Dan kebetulan saya punya lampu emergency yang cukup terang, 18W. Jadi cukup banget untuk semalaman. Jadi total biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 185.000 untuk empat orang. Tinggal nambah biaya perjalanan dan makan saja. Affordable-lah ya. 

Oya, untuk yang ingin ke sini, jangan lupa booking dulu. Bisa hubungi nomor berikut +62 822-1830-8551. Cukup di-WhatsApp saja. Adminnya cukup responsif dan cepat. Bisa juga kepoin instagramnya. Klik aja di sini.

Selamat bersenang-senang.
Share:

c'est moi

Member of

1minggu1cerita